Wanita Dan Bias Emansipasi
Posted by AdminKamdaApr 20
Hari ini kita sangat prihatin melihat kiprah para wanita kita. Sosok itu ternyata hampir benar-benar tenggelam atau tenggelam benar oleh keanggunannya. Sebuah fitrah kodrati yang senatiasa membelenggu mereka dan pledoi bahwa pembawaan merekalah seperti itu.
21 april biasanya pasti ramai di televisi, kelahiran Kartini diperingati di pelosok tanah air ini. Kelahiran yang melahirkan sebuah nilai perjuangan wanita Indonesia, disebutlah EMANSIPASI WANITA. Bagi mereka tidak ada peringatan akan kelahirannya, meski mengambil momen hari kelahirannya. Mereka telah menemukan sesuatu dibalik diturunkannya Kartini di muka bumi, jalan hidup hingga ajal menjemputnya. Sementara di sisi lain ada yang mengambil tema diskusi baru ; “Meluruskan Sejarah Kartini” dengan meng-counter pada titik ekstrem bukan Habis Gelap Terbitlah Terang –sejarahnya, tetapi Dari Gelap Menuju Terang. Pergeseran isu 21 april ini sarat muatan idelogisasi, katanya. Benarlah memang, “otak-atik” kata – kata : gelap – terbit – menuju – terang kalau padan-padankan sama saja. Bahwa Kartini mempunyai asal “dunia kegelapan”, Dia berubah dan Dia menemukan “ dunia yang terang”. Tentu membicarakan perbedaan ini tidak menarik lagi. Tentang maksud “dunia terang” macam apa yang didapat Kartini disitulah protes sejarah bagi kaum ideologis. Pertanyannya sekarang, “masih pentingkah kita mendebatkan ; “kemana sebenarnya Kartini berlabuh pada terangnya cahaya itu ?”, seberkas kekuatan pada cahaya perlawanan pada diskrimasi gender yang sering disebut sebagai nafas emansipasi ataukah penemuan ideologi penerang jiwanya ?”. Dua pertentangan ini juga dihadap-hadapkan dalam judul dua buku yang saling dilawankan, permodalan yang tidak main-main dalam mempengaruhi sejarah ini.
Bukankah mengangkat kekuatan dan semangat pada penyadaran etos perjuangan Kartini dari kelas gender termarginalkan menjadi kelas yang “bergairah” untuk tampil ke publik, satu perjuangan dengan gender laki-laki adalah kampanye yang dibutuhkan saat ini ?, di saat lemahnya peran wanita dalam dinamika sosial saat ini ? tampil terdepan dalam pembelaan hak-hak PKL yang diusir pontang-panting, buruh kontrak yang dibayar barang 20 ribu perhari ? terdepan dalam menyebar makanan dan susu untuk bayi-bayi busung lapar-gizi buruk di sekitar mereka. Dan segudang program-program kontra-pemiskinan struktural yang sengaja “ditancapkan” oleh rezim, yang menunggu tangan perjuangan makhluk yang beruwujud laki-laki maupun wanita. Tentunya itu akan lebih besar manfaatnya bagi kebaikan masyarakat.
Sumber :







Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.