Milad Adikku Tercinta

KAMMI adikku tercinta, usiamu sudah genap dua belas tahun. Abangmu ingin mengucapkan selamat menempuh usia baru, Dik. Di usia yang muda dan belia ini, bergeraklah lebih cepat dan terarah. Tentunya harus lebih baik dari sebelumnya. Dik, Abang punya cerita sebagai hadiah dari Abang untuk bekal kamu di usia barumu.

Abang dulu kenal namamu sejak Abang duduk di aliyah, tepatnya kelas dua. Abang lihat di sebuah rumah dekat sebuah kampus, ada logomu berkibar, lebih tepatnya benderamu terpampang gagah di sebuah rumah yang di dalamnya Abang lihat sekumpulan anak-anak muda berkumpul. Entah bicara tentang apa, Abang tak paham. Sepintas Abang lihat, mereka tak jauh beda dengan pemuda-pemuda lainnya, banyak ngobrol, asal kumpul dan sedikit duitnya. Maaf Dik, aku belum terlalu jauh mengenal dirimu waktu itu.

Beranjak sudah Abang dari Aliyah, lalu Abang kuliah. Di UIN Malang, Abang bertemu lagi logomu berkibar di sudut ma’had kampus, sebuah tempat beralaskan tikar sederhana dengan beberapa orang gadis berjaga di sana. Abang coba dekati,

“Mbak, ini KAMMI ya?”

“Iya, mau ikutan Dik?”

“KAMMI itu apa sih Mbak?”
“KAMMI itu,, bla.. bla… bla…”

“O… emm, ada nasyidnya nggak Mbak?”

“Ada, nanti kalau Adik ikut, boleh juga tuh disalurkan bakatnya,” jelas mbak itu panjang kali lebar. Nah, sampai di sini Abang mau cerita lagi. Kenapa dulu Abang kok bisa sampai ada di sini bersamamu Dik? Begini ceritanya, sebelum Abang ketemu mbak-mbak itu. Abang pernah ikut sebuah seminar di masjid Tarbiyah yang diadakan oleh mbak-mbak yang berjilbab gede-gede, dan mas-mas yang berjenggot dan muka manis. Persis seperti yang dulu pernah Abang lihat waktu di aliyah. Mbak-mbaknya juga berbusana rapi dan Islami, wah… Abang ikutan deh acara itu.

Nah, waktu acara selesai, Abang temui panitianya, “Mas ini kok nggak ada nasyidnya?” tanya Abang.

“Ow, kita ini hanya fokus saja dengan visi dan misi kita.”

“Maksudnya Mas?”

“Visi kita adalah menegakkan khilafah Islamiyah di muka bumi ini, bla… bla… bla…”

Tuing-tuing! Kepala Abang pusing dengar penjelasan mas-mas itu, panjang kali lebar kali tinggi. Hehehe… Singkatnya, Abang kecewa lah karena mereka kayaknya tidak suka nasyid, sebab Abang ini penggiat nasyid sudah sejak MTs Dik, sudah menjadi menu utama dan sudah mendarah daging di jantung hidup Abang. Dan, belakangan hari kemudian tahulah Abang kalau ternyata mereka adalah Hizbut Tahrir Indonesia.

Oleh karena itu Dik, kenapa Abang bisa sampai di sini ikut mengibarkan benderamu di jalan-jalan sambil berteriak-teriak lantang, berorasi, kadang sampai dorong-dorongan sama polisi. Ya, karena mbak-mbak cantik itu yang bilang kalau di KAMMI ada nasyidnya. Ah, ini sekedar kisah penyegar memori Abang bersama kenangan-kenangan dulu. Karena sekarang Abang lihat kamu lebih banyak kelihatan aksi di jalan-jalan dari pada mengembangkan bidang-bidang lainnya. Jangan kamu lupakan itu Dik, karena kita bergerak di semua bidang; olah raga, keterampilan, ekonomi, media, budaya, dan sebagainya. Ah, menasehatimu sebenarnya adalah juga menasehati diri Abang sendiri. Ya, kita bersama untuk berubah Dik. Sebuah evaluasi atas langkah-langkah kita selama ini. Agar kemudian kita mampu menjawab sebuah pertanyaan, “Apa jaminan manfaat jika bergabung bersama KAMMI?” lalu kita bisa dengan berani menjawab, “Bisa menjadi unggul di segala bidang!!!” wah, mantap dah… Selamat membuat langkah-langkah baru Dik, semoga di usia ini engkau semakin bertambah karya-karya baru. Dan, barokumulloh ^_^, Amin.. Oya, Abang minta do’a, supaya Abang bisa wisuda bulan Mei nanti ya. Mau tahu apa skripsi Abang? Ah nanti saja Abang kirim surat lagi untuk Kau, Dik… insyaAllah..

Dari Abangmu,

Ahmed Tito Rusadi, Malang 29 Maret 2010, 14:28 WIB. Di suatu masjid….