Archive for the ‘ Karya Kader ’ Category

MAY DAY (hari buruh) 2010

“kebenaran ada pada kita. Keadilan ada pada kita, dan hokum Allah yang lebih tinggi dari pada hokum manusia membenarkan tindakan kita” Arabindo Ghose

Karl marx dalam bukunya zur kritik der politischen oekonomie menulis: ”pada suatu ketika dari kemajuan masyarakat munculah pertentangan dalam hubungan produksi, di mana hanya ada satu otoritas yang berkuasa dalam lingkungan tempat ia bergerak sampai sekarang. Oleh sebab itu hubungan-hubungan produksi akan berbalik menjadi rantai-rantai belenggu di antara keduanya (borjuis terhadap proletar). Maka jaman perubahan social (revolusi social) pun dimulai”.

melihat dari pemaparan marx di atas, sepertinya hal-hal mengenai belenggu buruh akan selalu terjadi. Karena memang buruh harus selalu dibenturkan pada 2 pilihan yang amat sulit. Pilihan pertama yakni memperjuangkan hak nya secara penuh tapi harus berurusan dengan ancaman pemecatan. Dan pilihan kedua adalah tetap berjalan apa adanya tanpa melakukan tuntutan, tapi mereka harus berurusan dengan laparnya perut dirinya dan keluarganya. Kedua pilihan ini sepertinya selalu menggerogoti pikiran semua buruh. Pilihan-pilihan yang sebenarnya tidak ada yang layak untuk dipilih. Tapi pilihan itu harus tetap dipilih karena para buruh secara tidak sadar telah dipasung oleh belenggu para kaum borjuis.

Di Indonesia khususnya di malang. Ketertekanan buruh bahkan sudah melampaui batas. Praktek Indie weerbaar yang dulu sangat ditentang oleh sneevliet dan tjipto mangkusumo sepertinya telah bersemi kembali di kota ini. Para kaum borju atau para kaum kapitalis memanfaatkan para buruh untuk mempertahankan pundi-pundi keuangannya dari serangan pihak-pihak luar termasuk pemerintah. Bisa kita lihat saat ini pada kasus cukai PT. Sido Bangun. Bila kita lihat kasusnya, sebenarnya penunggakan cukai yang dilakukan pihak perusahaan adalah suatu perbuatan melanggar hukum. Tapi pertanyaannya kenapa para buruh PT. Sido Bangun beramai-ramai turun ke jalan untuk membela perusahaan? Mereka para buruh turun ke jalan berdemonstrasi mendukung perusahaan karena memang sebenarnya yang sedang dalam kondisi terjepit adalah para buruh bukan para pemodal. Saat perusahaan terjepit oleh utang cukai maka secara tidak langsung mereka para pemodal akan melakukan penghematan biaya produksi, dalam hal ini biaya untuk menggaji para buruh. Ekstimnya mengurangi jumlah pekerja. Jadi wajar apabila buruh was-was. Read the rest of this entry »

Mengapa Aku Mencintai KAMMI ? (1)

Milad Adikku Tercinta

KAMMI adikku tercinta, usiamu sudah genap dua belas tahun. Abangmu ingin mengucapkan selamat menempuh usia baru, Dik. Di usia yang muda dan belia ini, bergeraklah lebih cepat dan terarah. Tentunya harus lebih baik dari sebelumnya. Dik, Abang punya cerita sebagai hadiah dari Abang untuk bekal kamu di usia barumu.

Abang dulu kenal namamu sejak Abang duduk di aliyah, tepatnya kelas dua. Abang lihat di sebuah rumah dekat sebuah kampus, ada logomu berkibar, lebih tepatnya benderamu terpampang gagah di sebuah rumah yang di dalamnya Abang lihat sekumpulan anak-anak muda berkumpul. Entah bicara tentang apa, Abang tak paham. Sepintas Abang lihat, mereka tak jauh beda dengan pemuda-pemuda lainnya, banyak ngobrol, asal kumpul dan sedikit duitnya. Maaf Dik, aku belum terlalu jauh mengenal dirimu waktu itu.

Beranjak sudah Abang dari Aliyah, lalu Abang kuliah. Di UIN Malang, Abang bertemu lagi logomu berkibar di sudut ma’had kampus, sebuah tempat beralaskan tikar sederhana dengan beberapa orang gadis berjaga di sana. Abang coba dekati,

“Mbak, ini KAMMI ya?”

“Iya, mau ikutan Dik?”

“KAMMI itu apa sih Mbak?”
“KAMMI itu,, bla.. bla… bla…” Read the rest of this entry »

Wanita Dan Bias Emansipasi

Hari ini kita sangat prihatin melihat kiprah para wanita kita. Sosok itu ternyata hampir benar-benar tenggelam atau tenggelam benar oleh keanggunannya. Sebuah fitrah kodrati yang senatiasa membelenggu mereka dan pledoi bahwa pembawaan merekalah seperti itu.

21 april biasanya pasti ramai di televisi, kelahiran Kartini diperingati di pelosok tanah air ini. Kelahiran yang melahirkan sebuah nilai perjuangan wanita Indonesia, disebutlah EMANSIPASI WANITA. Bagi mereka tidak ada peringatan akan kelahirannya, meski mengambil momen hari kelahirannya. Mereka telah menemukan sesuatu dibalik diturunkannya Kartini di muka bumi, jalan hidup hingga ajal menjemputnya. Sementara di sisi lain ada yang mengambil tema diskusi baru ; “Meluruskan Sejarah Kartini” dengan meng-counter pada titik ekstrem bukan Habis Gelap Terbitlah Terang –sejarahnya, tetapi Dari Gelap Menuju Terang. Pergeseran isu 21 april ini sarat muatan idelogisasi, katanya. Benarlah memang, “otak-atik” kata – kata : gelap – terbit – menuju – terang kalau padan-padankan sama saja. Bahwa Kartini mempunyai asal “dunia kegelapan”, Dia berubah dan Dia menemukan “ dunia yang terang”. Tentu membicarakan perbedaan ini tidak menarik lagi. Tentang maksud “dunia terang” macam apa yang didapat Kartini disitulah protes sejarah bagi kaum ideologis. Pertanyannya sekarang, “masih pentingkah kita mendebatkan ; “kemana sebenarnya Kartini berlabuh pada terangnya cahaya itu ?”, seberkas kekuatan pada cahaya perlawanan pada diskrimasi gender yang sering disebut sebagai nafas emansipasi ataukah penemuan ideologi penerang jiwanya ?”. Dua pertentangan ini juga dihadap-hadapkan dalam judul dua buku yang saling dilawankan, permodalan yang tidak main-main dalam mempengaruhi sejarah ini. Read the rest of this entry »

12 tahun sudah Kepal tangan KAMMI menjulang ke angkasa. menorehkan sekian suka. sekian duka. sekian tawa. sekian air mata. sekian kisah dan sekian kesah. di 12 tahun ini, KAMMI terus menerus berusaha untuk tetap eksis dalam blantika pergerakan mahasiswa. Sebuah usaha yang tidak mudah ditengah mahasiswa yang semakin diburu oleh susahnya mencarinya pekerjaan sehingga harus terburu-buru melepas “masa lajangnya” sebagai mahasiswa untuk kemudian menyadang status baru sebagai pencari kerja atau pencipta kerja dinegeri ini.
12 tahun mawar merah kammi mengiringi sejarah negeri. Merahnya terus berusaha merona ditengah guyuran pragmatisme yang kian deras. maka satu dua kader atau dalam bilangan berapapa pun terluka. Terseret arus pragmatisme dan berdalih ini adalah bagian dari perjuangan. Lalu dengan congkaknya bermanuver kedalam dan keluar. Bak politikus yang lihai menebar kebusukan. Maka jika kau robek hatinya, kau temukan itulah sumber kebusukan amalnya.

Read the rest of this entry »

Mengkader Pemimpin

Dalam terminologi gerakan KAMMI proses kaderisasi berarti suatu proses pembinaan intensif untuk satu proses engineering, proses kontruksi terhadap ummat dengan cara membangun inti masyarakat.

Siapakah inti masyarakat itu..?

Merekalah yang disebut dengan para pemimpin. Merekalah sekelompok orang yang akan menentukan kemana masyarakat itu akan dibawa.

Mengkader pemimpin tidak sama dengan mengkader masyarakat awam. Perlu proses yang lebih rumit dan sulit dengan durasi waktu yang lebih lama.

Untuk itulah kader Muslim Negarawan yang akan dilahirkan dalam gerakan KAMMI membutuhkan sistem dan prasarana khusus untuk melahirkannya. Karena kita meyakini bahwa pada hakikatnya setiap manusia punya potensi kepemimpinan, dan untuk membangkitkannya kita hanya butuh cara untuk mempoles dan membuka kuncinya.

Lembaga Akreditasi Kader ( LAK ) KAMMDA Malang hadir untuk memenuhi kebutuhan akan sarana pengkaderan Pemimpin di KAMMDA Malang.

Disini segala kebutuhan akan potensi dan kemampuan (kafaah) kepemimpinan yang akan dihasilakan di uji dengan metode kuantitatif.

Muwashofat kader yang telah ditetapkan dalam Risalah Manhaj Kaderisasi KAMMI akan dinilai sehingga kader layak di sematkan jenjang kadernya sesuai Marhalahnya.

Kita ingin benar-benar menjamin bahwa kader-kader pemimpin yang di hasilkan oleh KAMMI benar-benar sesuai dengan kebutuhan zaman, dan dapat memberikan solusi akan permasalahan ummat hari ini dan di masa yang akan datang.

Karena kita menyadari bahwa salah satu akar permasalahan dari berbagai macam krisis yang menimpa bangsa kita adalah Krisis pemimpin yang berkualitas. Dan ternyata sistem yang ada di negeri ini utnuk melahirkan pemimpin-pemimpinnya belum terbukti mampu menghasilkan pemimpin yang benar-benar di harapkan.

Semoga sistem pengkaderan yang ada di gerakan KAMMI dengan berbagai sarananya termasuk adanya LAK ini benar-benar dapat menghasilkan prototipe pemimpin yang dinantikan oleh bangsa ini. Mampu menyelesaikan permasalahan negeri ini dan mampu mengangkat negeri ini menjadi maju, bermartabat dan menjadi pelopor untuk melahirkan tatanan baru peradaban dunia.

“Orang-orang besar hanya mampu di tampung oleh komunitas yang didalamnya juga terdapat orang-orang besar”

Ketua KAMMDA Malang
2009-2010

Mahasiswa sebagai lokomotif penggerak reformasi selalu diperhadapkan dengan realitas yang membuatnya tak jarang berada di persimpangan jalan, antara idelisme dan realita. Perannya sebagai agent of change (ataupun dalam konteks ke-KAMMI-an dewasa ini lebih dituntut mesti lebih dari sekadar agent, menjadi director of change, pengendali perubahan) dan iron stock (cadangan keras) tak ayal menjadikan mahasiswa selalu berada dalam barisan depan mewujudkan cita-cita masyarakat yang sering berbenturan dengan kekuasaan tiranik yang secara sadar maupun tak sadar menindas rakyat. Persoalan yang sering mencuat dalam tubuh gerakan mahasiswa, dapat berbentuk problem pematangan diri secara organisasional, kederisasi, hubungan antar kelompok atau komunitas mahasiswa sendiri, sampai pada prioritas isu yang akan di angkat dan harus segera diselesaikan, Belum lagi menghadapi kepentingan kelompok-kelompok politis tertentu dengan godaan yang sangat luar biasa, sampai meruntuhkan independensi gerakan. Pastinya lagi masalah absensi di ruang kelas, SKS yang harus dilulusi, tugas-tugas kuliah beserta seabrek agenda akademik tentunya juga mau tidak mau mesti menjadi skala prioritas.

KAMMI yang lahir dari hiruk pikuk dan gegap gempita alam Indonesia zaman reformasi, adalah pertanda kebangkitan anak-anak muda Islam (dalam hal ini mahasiswa) yang sebenarnya aromanya telah tercium belasan atau bahkan puluhan tahun sebelumnya sebagai arus kebangkitan dunia islam skala internasional, KAMMI sebagai anak kandung dakwah dan tarbiyah.

Dalam perjalanan selama delapan tahun mengawal cita-cita republik ini dari zaman pergolakan reformasi sampai Indonesia terkini, Satu pertanyaan klasik, sudah sampai ke mana sajakah tujuan KAMMI yang termaktub dalam visi-misinya paradigma gerakan, sampai yang paling canggih kredo gerakan mampu mengubah wajah Indonesia hari ini? Mari kita bicara tentang peran strategis, ketika menyingung peran strategis maka sederhananya pola pikr kita digiring ke pertanyaan tentang posisi tawar KAMMI serta seberapa “penting” KAMMI di mata bangsa, di mata Indonesia, dan ketika diperkecil lagi dalam wilayah lokal Kota Malang. Betulkah KAMMI di Kota Malang sudah benar-benar menjalankan fungsinya sebagai problem solver yang sebenar-benarnya dan benar-benar diperhitungkan. Atau cuma sekedar pelengkap dinamika atau bahkan cuma timbul sebagai “gejala” euphoria kebebasan mengusung bendera dengan warna berbeda.

2. Masyarakat Madani

Sebagai bagian tak terpisahkan dari cita-cita luhur islam Indonesia, mewujudkan tatanan masyrarakat berkeadilan dalam republik Indonesia, wa bil khusus Kota Malang, KAMMI selayaknya mengambil posisi-posisi yang lebih signifikan. Cita-cita luhur itu adalah masyarakat madani, hampir tak ada bantahan tentang ini. Defenisi tentang masyarakat madani pun tak seragam pada satu teks. Jika menilik akar kata dalam bahasa Inggris, merujuk pada Civil Society, masyarakat sipil; sebuah kontraposisi dari masyarakat militer. Begitupun ketika dalam khazanah islam, masyarakat madani mengacu pada romantisme pemerintahan Islam zaman rasulullah di madinah kala itu. Tatkala kesejahteraan bisa dijewantahkan dalam laku dan gerak masyarakat madinah melalui pemerintahan berkeadilan. Tak salah (ada benarnya) masyarakat yang sejahtera lahir bathin diidentifikasi sebagai masyarakat Madany.

3. KAMMI berjuang untuk Malang Madani, Diantara Pilihan-Pilihan Jalur Gerakan

Belajar dari sejarah. Mahasiswa yang lahir setelah gelora reformasi berkecamuk mulai memikirkan langkah-langkah tepat mengawal perubahan yang diperjuangkannya mati-matian. Seringkali dianalogikan gerakan mahasiswa sebagai Resi atau pendekar, yang akan turun gunung ketika kampung porak poranda ditangan perompak, dan akan kembali bertapa di padepokannya setelah keadaan kembali tenteram.. Sejarah ternyata mengajarkan mereka bahwa seringkali setelah perubahan terjadi tak ada yang mengontrol agar gerak arah bangsa tetap pada rel cita-cita sebagai amanat rakyat, mahasiswa beroyong-boyong kembali ke “pertapaan”. Gerakan moral ternyata menurut sebagian pendapat pada masa dan kondisi tertentu harus menuju ke gerakan politik. Cuma permasalahan yang timbul lagi sampai batas-batas mana yang diperkenankan sebagai tanggung jawab moralnya selaku mahasiswa, dan bukan pada batas seluas-luasnya.

Lingkup wilayah Kota Malang dengan segala persoalan masyarakatnya yang kompleks, adalah bagian tak terpisahkan dari aspek dakwah dan perjuangan KAMMI. Dalam mewujudkan “masyarakat madani” Kota Malang, tentunya salah satu posisi yang bisa diambil adalah optimalisasi fungsi Social Control sebagai gerakan mahasiswa. Sekali lagi karena sesuai awal terlahirnya, telah memproklamirkan diri sebagai gerakan ekstra parlementer. Maka daya kritisi terhadap kinerja pemerintah dan perangkat-perangkatnya adalah senjata utama, ini perlu dibarengi wawasan tentang kebangsaan yang diharapkan dalam profil muslim negarawan. Konsep gerakan moral tampaknya masih tetap perlu dijaga untuk tetap menjamin “taji” KAMMI masih tetap tajam merespon semangat zaman (zeitgeist) Seperti

1. Pengawalan setiap issue yang berkaitan langsung dengan kepentingan rakyat Kota Malang,

2. Perumusan konsep masyarakat madani atau masyarakat sejahtera sebagai tawaran kepada pemerintah.

3. Pembelajaran politik kepada masyarakat melalui penyadaran posisi dan perannya dalam situasi kebangsaan terkini. Melalaui jalur-jalur Aksi maupun seminar-seminar dan semacamnya.

4. Kritik terhadap kinerja struktur pemerintahan dan perangkat-perangkat negara tanpa pandang bulu.

Secara pribadi dan kultural, keberpihakan politik tidak bisa dinafikan, sebab satu dalam “Jamaah” merupakan keniscayaan dalam tubuh gerakan dakwah. Namun layaknya selaku mahasiswa tentunya sudah cukup cerdas menempatkan dirinya masing-masing dalam ranah-ranah di mana ia berpijak. Bukan pilihan-pilihan namun lebih kepada regulasi. Ada saatnya kapan menjadi sosok pure orientasi politik, pasca mahasiswa misalnya.

Peran sebagai penyedia pemimpin-pemimpin masa depan perlu diberdayakan secara maksimal berdasarkan potensi yang dimiliki setiap kadernya, sebab masyarakat madani yang dicita-citakan dalam pandangan KAMMI tentunya adalah masyarakat tidak hanya sejahtera secara fisik/materi namun juga secara moral, spiritual, dan intelektual.

oleh : AndrikPrastiyono.Net